Sejarah Marga Marbun, Keturunan Raja Naipospos dari Tanah Batak
![]() |
| Ilustrasi sejarah marga Marbun. (Chat GPT/marluga.com) |
MARLUGA.COM - Marbun (Surat Batak: ᯔᯒ᯲ᯅᯮᯉ᯲) merupakan salah satu marga dalam masyarakat Batak Toba yang secara tradisi genealogis dikaitkan dengan wilayah Bakkara, Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatera Utara.
Dalam tarombo atau silsilah Batak, Marbun disebut sebagai keturunan Toga Marbun, putra Raja Naipospos. Marbun berada dalam rumpun keturunan Raja Naipospos bersama Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit, dan Situmeang.
Asal-Usul Marga Marbun
Dalam tradisi tarombo, Toga Marbun merupakan putra Raja Naipospos. Ia disebut sebagai putra dari istri kedua Raja Naipospos, boru Pasaribu.
Silsilah keturunan Raja Naipospos umumnya mencatat Donda Hopol atau Sibagariang sebagai putra dari istri pertama, kemudian Marbun dari istri kedua. Setelah itu terdapat Donda Ujung atau Hutauruk, Ujung Tinumpak atau Simanungkalit, serta Jamita Mangaraja atau Situmeang.
Urutan tersebut dalam sejumlah penulisan tarombo mengikuti tradisi yang mengutamakan keturunan dari istri pertama sebelum keturunan dari istri berikutnya. Karena itu, Marbun kerap ditempatkan sebagai bagian terakhir dalam urutan penulisan keturunan Raja Naipospos.
Menurut tradisi yang berkembang di kalangan keturunan Naipospos, Dolok Imun-Huta Raja merupakan salah satu wilayah awal yang dibuka dan ditempati Raja Naipospos. Para keturunannya, termasuk Marbun, diyakini lahir dan tumbuh di kawasan tersebut.
Secara administratif, wilayah Dolok Imun saat ini berada di kawasan yang mencakup Kecamatan Sipoholon dan sebagian wilayah Kecamatan Siborongborong serta Kecamatan Pagaran, Kabupaten Tapanuli Utara.
Perjalanan Marbun ke Bakkara
Setelah Raja Naipospos wafat, keturunannya mulai menyebar dari Dolok Imun. Dalam cerita dan tradisi yang berkembang di kalangan keturunan Marbun, terdapat persoalan hubungan antara keturunan dari istri pertama dan istri kedua.
Marbun kemudian disebut meninggalkan Dolok Imun bersama ibunya, boru Pasaribu, serta seorang saudara perempuannya. Dalam perjalanan tersebut, Marbun membawa warisan keluarga berupa sebuah gong atau ogung yang dikenal dengan nama Jeret.
Saudara perempuan Marbun kemudian disebut menikah dengan seorang laki-laki dari keturunan marga Silaban ketika rombongan singgah di kawasan Silaban Rura, Pansur Natolu.
Sementara itu, Marbun melanjutkan perjalanan hingga membuka permukiman dan menetap di Parmonangan, Bakkara.
Parmonangan, Bakkara, kini merupakan salah satu wilayah di Kecamatan Baktiraja, Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatera Utara.
Tiga Keturunan Utama Marbun
Dalam tradisi silsilah Marbun, Toga Marbun disebut memiliki tiga putra, yaitu:
- Lumban Batu
- Banjar Nahor
- Lumban Gaol
Ketiga nama tersebut kemudian berkembang menjadi marga Lumbanbatu, Banjarnahor, dan Lumbangaol.
Pada masa awal perkembangannya, keturunan Toga Marbun disebut masih menggunakan nama Marbun. Seiring berjalannya waktu, ketiga kelompok keturunan tersebut kemudian menggunakan nama leluhur atau kelompok masing-masing sebagai marga.
Karena itu, dalam hubungan kekerabatan, nama Marbun dapat merujuk pada tiga kelompok keturunan utama, yakni Marbun Lumbanbatu, Marbun Banjarnahor, dan Marbun Lumbangaol.
Istilah seperti lumban, banjar, huta, dan sosor sendiri memiliki kaitan dengan sistem permukiman tradisional masyarakat Batak. Istilah tersebut pada masa lalu digunakan untuk menyebut kelompok atau tingkatan perkampungan.
Hubungan Kekerabatan Keturunan Marbun
Dalam tradisi kekerabatan Batak, hubungan antarketurunan Marbun tetap dipandang sebagai satu ikatan keluarga besar.
Karena itu, dalam sejumlah perkumpulan keturunan Marbun terdapat anjuran untuk menjaga hubungan persaudaraan di antara Lumbanbatu, Banjarnahor, dan Lumbangaol. Salah satu bentuknya adalah mempertahankan pemahaman bahwa ketiga kelompok tersebut berasal dari satu garis keturunan Toga Marbun.
Pandangan serupa juga berlaku dalam hubungan dengan kelompok keturunan Raja Naipospos lainnya, seperti Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit, dan Situmeang.
Sejarah dan tarombo Marbun menjadi bagian dari warisan budaya masyarakat Batak Toba. Selain menjelaskan hubungan genealogis antarmarga, kisah tersebut juga menggambarkan bagaimana perpindahan leluhur, pembukaan permukiman, serta sistem kekerabatan diwariskan dari generasi ke generasi.
SUMBER: WIKIPEDIA
