Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Siswa SMA Negeri 26 Jakarta Pentaskan “Les Miserants” di TIM

Kamis, 20 Agustus 2026 | Agustus 20, 2026 WIB Last Updated 2026-08-20T15:19:48Z


MARLUGA.COM - SMA Negeri 26 Jakarta, Tebet, Jakarta Selatan, kembali menggelar pentas seni (pensi) pada 2026. Tahun ini, siswa kelas XII-2 akan menampilkan drama teater bertajuk “Les Miserants” di Gedung Teater Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, Minggu, 23 Agustus 2026.


Pentas seni menjadi ruang bagi siswa untuk mengembangkan kreativitas sekaligus menyalurkan minat dan bakat di luar bidang akademik. Kegiatan ini juga menjadi sarana untuk melatih keberanian, membangun kepercayaan diri, serta memperkenalkan potensi dan identitas sekolah kepada masyarakat.


Dalam pementasan “Les Miserants”, para siswa mengangkat sejumlah persoalan sosial, seperti penebusan dosa, ketidakadilan, kesenjangan kelas, kemiskinan, serta perlawanan terhadap kekuasaan yang menindas.


Cerita berlatar Batavia pada abad ke-19 dan dimulai pada 1815. Tokoh utama bernama Johan Vander Wijaya, mantan tahanan yang berusaha meninggalkan masa lalunya dan membangun kehidupan baru.


Johan sebelumnya dikenal sebagai Tahanan 58404. Ia menjalani hukuman kerja paksa selama 19 tahun setelah mencuri segenggam beras. Setelah bebas, Johan menggunakan identitas baru, Cornelius, hingga akhirnya dipercaya menduduki jabatan sebagai Wali Kota Batavia.


Namun, kekuasaan tidak membuat Cornelius melupakan pengalaman masa lalunya. Ia justru menggunakan posisinya untuk melindungi dan memperjuangkan kepentingan masyarakat.


Perjalanan Cornelius kemudian berhadapan dengan Frederik, seorang penegak hukum sekaligus jenderal polisi kolonial yang digambarkan sangat kaku dalam menjalankan aturan. Konflik semakin tajam ketika Frederik melakukan kudeta dan mengangkat dirinya sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda.


Kisah tersebut juga menghadirkan Helena, seorang janda miskin yang kehilangan suaminya akibat kerja rodi. Dalam kondisi serba kekurangan, Helena berjuang memenuhi kebutuhan anaknya. Ia kemudian menjadi korban kekerasan sistem setelah mencuri beras untuk bertahan hidup.


Putri Helena, Eleanor, menjadi bagian penting dalam cerita. Setelah mengalami eksploitasi oleh keluarga Delacroix, Eleanor kemudian diasuh dan diadopsi Cornelius. Saat dewasa, ia terlibat dalam perjuangan rakyat bersama Aditya Wiranegara, pemuda revolusioner yang memimpin gerakan menentang sistem kolonial.


Tokoh Pauline van der Capellen, putri sulung Gubernur Jenderal Godert van der Capellen, juga hadir dalam cerita. Ia menawarkan jabatan wali kota kepada Cornelius.


Sementara itu, Gustaf dan Madame Delacroix digambarkan sebagai pasangan pemilik kedai yang serakah dan mengeksploitasi Eleanor. Kedai tersebut juga menjadi tempat penyelundupan candu.


Melalui konflik antara Frederik dan Aditya, “Les Miserants” mempertentangkan dua pandangan mengenai hukum. Frederik mewakili pandangan bahwa hukum harus ditegakkan secara mutlak, sedangkan Aditya membawa gagasan bahwa hukum harus tetap mempertimbangkan sisi kemanusiaan.


Pesan utama pementasan ini adalah kritik terhadap sistem yang hanya berfokus pada hukuman tanpa melihat persoalan yang melatarbelakangi suatu tindakan, termasuk kemiskinan dan ketimpangan sosial.


Selain itu, pementasan menyoroti pentingnya solidaritas, keberanian, dan perlawanan terhadap ketidakadilan. Simbol pin burung mockingjay digunakan untuk menggambarkan keberanian serta semangat masyarakat dalam menghadapi sistem yang menindas.


Sejumlah siswa dipercaya memerankan tokoh utama. Muhammad Zian Kamil berperan sebagai Johan, Andrea Melandri sebagai Frederik, Alvira Zahra Arifin sebagai Helena, Kendra Ailsa Nandapratista sebagai Eleanor, Abed Nego Gilbertian sebagai Aditya Wiranegara, dan Kirana Putrining Ramadhan sebagai Pauline van der Capellen.


Tokoh Gustaf diperankan Muhammad Ammar Syafiq, sedangkan Madame Delacroix diperankan Nadilla Kurniawati.


Pementasan disutradarai Rayendra Wirabagja S., dengan Keyaani Adilla Widyanto sebagai asisten sutradara. Naskah ditulis Radhika Naufal Aulya bersama Fahmi Gumarang sebagai penulis pendamping.


Melalui “Les Miserants”, siswa kelas XII-2 SMA Negeri 26 Jakarta tidak hanya menghadirkan hiburan dalam kegiatan pentas seni. Mereka juga menyampaikan refleksi tentang hubungan hukum, kekuasaan, kemiskinan, dan kemanusiaan.


Pertunjukan yang akan digelar di Gedung Teater Taman Ismail Marzuki tersebut diharapkan mampu memberikan pengalaman seni sekaligus membuka ruang bagi penonton untuk merenungkan makna keadilan.


Pertanyaan yang menjadi pesan penting dalam pementasan ini pun sederhana, tetapi relevan: ketika hukum kehilangan sisi kemanusiaannya, apakah hukum masih dapat disebut sebagai keadilan? (Red)

×
Berita Terbaru Update