MARLUGA.COM - Perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dimaknai secara berbeda oleh Romo Kolonel (Purn.) Sus. Yoseph Maria Marcelinus Bintoro, Pr. Ia mengibarkan Bendera Merah Putih di bawah laut Pulau Mimita, yang berada di seberang Pulau Morotai, Maluku Utara.
Aksi tersebut dilakukan saat Romo Yos menyelam di perairan Pulau Mimita pada Senin (17/8/2026). Di bawah permukaan laut, ia menyaksikan terumbu karang yang masih terjaga, ribuan ikan yang berenang bebas, serta kawanan blacktip reef shark atau hiu karang sirip hitam yang melintas di antara terumbu.
Di tengah keindahan bawah laut tersebut, Romo Yos membentangkan Merah Putih. Bagi Wakil Uskup Ordinariatus Castrensis Indonesia (OCI) untuk umat Katolik di lingkungan TNI dan Polri itu, pengibaran bendera bukan sekadar bagian dari peringatan kemerdekaan, tetapi juga bentuk syukur atas kekayaan alam Indonesia.
"Indonesia bukan hanya tanah yang kita pijak. Indonesia juga lautan yang kita selami," ujar Romo Yos.
Ia menilai laut memiliki posisi penting dalam identitas Indonesia. Sebagian besar wilayah Indonesia merupakan perairan yang sejak dahulu menjadi ruang kehidupan masyarakat, jalur pelayaran, sumber penghidupan nelayan, sekaligus penghubung antarpulau.
"Laut bukan batas. Laut adalah pemersatu Indonesia," tegasnya.
Bagi Romo Yos, kecintaan terhadap tanah air juga tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab menjaga lingkungan sebagai bagian dari ciptaan Tuhan. Karena itu, nasionalisme tidak cukup diwujudkan melalui pengibaran bendera setiap Agustus.
Menurut dia, rasa cinta kepada Indonesia harus diwujudkan melalui tindakan nyata, termasuk menjaga laut, hutan, pegunungan, serta kekayaan alam lainnya agar tetap lestari.
"Nasionalisme sejati bukan sekadar mengibarkan bendera setiap bulan Agustus. Nasionalisme adalah kesediaan menjaga rumah bersama dan keberanian merawat kehidupan," katanya.
Pengalaman menyelam di Pulau Mimita juga menjadi refleksi iman bagi Romo Yos. Ia mengaitkannya dengan Kitab Kejadian 1:31 yang menyebutkan bahwa Allah melihat segala ciptaan-Nya sebagai sesuatu yang sungguh amat baik.
Menurutnya, keindahan alam Indonesia bukan hanya kekayaan bangsa, tetapi juga anugerah Tuhan yang harus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Ia kemudian mempertanyakan apakah generasi mendatang masih dapat menikmati keindahan laut Indonesia seperti yang disaksikan saat ini.
Memasuki 81 tahun kemerdekaan, Romo Yos menilai bangsa Indonesia tidak hanya memiliki tugas untuk mengenang perjuangan para pendahulu dalam mempertahankan kedaulatan. Kemerdekaan juga harus dimaknai sebagai tanggung jawab merawat kekayaan alam.
Kemerdekaan, lanjutnya, harus diwujudkan dengan memastikan anak cucu kelak masih dapat menikmati terumbu karang yang sehat, laut yang bersih, hutan yang hijau, serta keanekaragaman hayati Nusantara.
"Merah Putih harus berkibar bukan hanya di puncak gunung, tetapi juga dalam hati setiap warga negara," ujarnya.
Dari bawah laut Pulau Mimita, Romo Yos menyampaikan pesan bahwa nasionalisme berawal dari rasa syukur. Rasa syukur tersebut, menurut dia, semestinya mendorong setiap warga untuk menjaga alam yang telah dipercayakan Tuhan kepada manusia.
"Merah Putih adalah ikrar untuk mencintainya. Menjaga laut Indonesia adalah cara mengasihi tanah air, dan mengasihi tanah air merupakan salah satu wujud syukur kepada Allah atas anugerah ciptaan-Nya." (Red)
