Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Perpusnas Bawa Perspektif Indonesia ke Kongres Perpustakaan Dunia IFLA 2026

Kamis, 20 Agustus 2026 | Agustus 20, 2026 WIB Last Updated 2026-08-20T03:31:17Z


MARLUGA.COM - Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) membawa sejumlah gagasan dan pengalaman Indonesia dalam pembahasan global mengenai masa depan perpustakaan melalui partisipasi pada 90th IFLA World Library and Information Congress (WLIC) 2026 di Busan dan IFLA Satellite Meeting di Seoul, Republik Korea.


Empat pegawai Perpusnas tampil sebagai presenter dengan membahas sejumlah isu strategis, mulai dari pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI), keterbukaan pengetahuan, budaya populer dan generasi muda, relawan literasi masyarakat, hingga penguatan kemampuan berpikir kritis dan orisinalitas di tengah perkembangan AI.


Secara keseluruhan, terdapat 10 peserta asal Indonesia yang mengikuti rangkaian WLIC 2026. Lima peserta tampil sebagai presenter, dua mengikuti poster sessions, sedangkan tiga lainnya hadir sebagai peserta kongres.


Empat presenter dari Perpusnas tersebut adalah Irhamni Ali, Suci Indrawati Irwan, Sadariyah Ariningrum Wijiastuti, dan Yaya Ofia Mabruri.


IFLA WLIC 2026 berlangsung pada 10–13 Agustus 2026 dengan tema “Libraries Powering Transformation”. Kongres ke-90 International Federation of Library Associations and Institutions (IFLA) itu menghadirkan lebih dari 200 sesi dan pertemuan yang membahas berbagai isu, seperti AI, kebebasan intelektual, literasi iklim, berbagi pengetahuan, memori budaya, dan transformasi perpustakaan.


Kegiatan tersebut diikuti 3.191 delegasi dari 111 negara dan teritori. Sekitar separuh peserta merupakan delegasi yang baru pertama kali mengikuti kongres IFLA.


Perpusnas Dorong Pegawai Aktif di Forum Internasional

Kepala Perpusnas E. Aminudin Azis mengapresiasi keterlibatan pegawai Perpusnas yang membawa gagasan dan pengalaman Indonesia ke forum perpustakaan internasional.


Menurut Aminudin, keikutsertaan dalam forum global bukan sekadar untuk meningkatkan kapasitas individu, tetapi juga harus memberikan dampak bagi institusi dan masyarakat.


“Kami mendukung pegawai Perpusnas untuk terus meningkatkan kapasitas, membangun jejaring, dan berpartisipasi dalam forum internasional. Pengetahuan, pengalaman, serta jejaring yang diperoleh harus dibawa pulang dan diterjemahkan menjadi gagasan maupun praktik yang relevan untuk memperkuat perpustakaan dan budaya literasi di Indonesia,” ujar Aminudin.


Ia menilai Indonesia memiliki pengalaman dan praktik baik yang dapat menjadi bagian dari pertukaran pengetahuan di tingkat global. Karena itu, ia mendorong lebih banyak pustakawan dan profesional Perpusnas melakukan penelitian, mendokumentasikan praktik baik, serta membagikannya melalui forum internasional.


“Memang kita perlu belajar dari dunia, tetapi dunia juga perlu mendengar pengalaman Indonesia,” katanya.


Budaya Populer Jadi Pintu Masuk Literasi

Salah satu kontribusi Indonesia disampaikan Sadariyah Ariningrum Wijiastuti. Pustakawan Perpusnas tersebut terpilih sebagai salah satu dari 16 peserta IFLA Emerging Leaders 2026.


Ariningrum tampil dalam tiga sesi dengan membahas budaya populer sebagai pintu masuk literasi, dampak perpustakaan bagi masyarakat, serta model Relawan Literasi Masyarakat (RELIMA).


Melalui makalah “Manga and Libraries: Bridging Popular Culture and Literacy Institutions in Indonesia” yang ditulis bersama Mohammad Bagus Yodha, Ariningrum membahas potensi manga untuk mendekatkan generasi muda dengan perpustakaan.


Pada sesi lainnya, ia mengkritisi anggapan bahwa semakin besar perpustakaan, semakin besar pula dampaknya. Menurutnya, manfaat perpustakaan tidak semata-mata ditentukan oleh ukuran gedung atau besarnya anggaran.


Ariningrum juga memperkenalkan program RELIMA melalui makalah “Building Connections, Powering Transformation: Indonesia’s Community Literacy Volunteer Model (RELIMA)”.


Program tersebut berkembang dari 180 relawan di 177 kabupaten/kota pada 35 provinsi pada 2025 menjadi 360 relawan yang tersebar di 321 kabupaten/kota pada 2026.


“Di WLIC 2026, saya mencoba menyerap sebanyak mungkin pengalaman dan gagasan, bukan hanya dari sesi-sesi resmi, tetapi juga dari diskusi dan obrolan dengan rekan-rekan dari berbagai negara. Banyak hal yang bisa kita bawa pulang untuk pengembangan perpustakaan di Indonesia,” ujar Ariningrum.


Ia berharap Indonesia suatu saat tidak hanya berpartisipasi, tetapi juga dapat menjadi tuan rumah penyelenggaraan WLIC.


Literasi dan Berpikir Kritis di Tengah Perkembangan AI

Perspektif mengenai tantangan literasi di era AI disampaikan Yaya Ofia Mabruri, penerima Angela Bersekowski Grant pada IFLA WLIC 2026.


Dalam sesi ARL Hot Topics, Yaya mempresentasikan makalah “Centering Collaboration to Strengthen Critical Thinking and Safeguard Originality in the Age of AI: A Case Study of the Sepekan 1 Buku Initiative.”


Melalui pengalaman Gerakan Indonesia Membaca #Sepekan1Buku, Yaya menekankan pentingnya kolaborasi antara perpustakaan, sekolah, pendidik, keluarga, dan komunitas untuk membangun kebiasaan membaca sekaligus mempertahankan kemampuan berpikir kritis dan menghasilkan gagasan secara mandiri.


“AI memang banyak membantu, tetapi jangan sampai kemudahan itu membuat kita jadi malas membaca, berpikir kritis, atau menghasilkan gagasan sendiri,” ujar Yaya.


Menurutnya, perpustakaan tidak dapat menghadapi perubahan teknologi seorang diri. Kolaborasi dengan berbagai pihak dibutuhkan agar AI menjadi alat pendukung pembelajaran, bukan pengganti proses berpikir dan belajar.


Perpusnas Soroti Keterbukaan Pengetahuan

Suci Indrawati Irwan membawa perspektif Indonesia mengenai komunikasi ilmiah melalui sesi “The Transformative Power of Diamond Open Access: Building Knowledge as a Global Good.”


Pada 12 Agustus 2026, Suci mempresentasikan kajian “When Open Infrastructure Fails: Fragmentation in Repository-Based Scholarly Communication—Insights from Indonesia.”


Kajian tersebut menyoroti bahwa ketersediaan infrastruktur terbuka belum otomatis menjamin pengetahuan dapat ditemukan, diakses, digunakan kembali, dan disebarluaskan secara efektif.


Suci menilai repositori tidak semestinya hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan hasil penelitian. Repositori perlu menjadi bagian dari infrastruktur pengetahuan yang memungkinkan informasi saling terhubung dan dimanfaatkan kembali.


“Kita tidak cukup hanya membangun repositori dan membuka aksesnya. Yang lebih penting adalah memastikan pengetahuan di dalamnya benar-benar mudah ditemukan, terhubung, dan bisa dimanfaatkan kembali,” kata Suci.


Menurutnya, keberhasilan diamond open access tidak hanya ditentukan oleh jumlah publikasi yang tersedia secara terbuka atau banyaknya repositori, tetapi juga oleh kemampuan pengetahuan tersebut untuk bergerak dan memberikan manfaat bagi masyarakat.


AI untuk Pemantauan Kinerja Perpustakaan

Kontribusi Perpusnas berlanjut melalui Irhamni Ali dalam IFLA Satellite Meeting bertema “Practical Implementations of Artificial Intelligence in Public Libraries” di Seoul pada 14 Agustus 2026.


Irhamni membawakan topik “From Library Data to Action: A Practical Hybrid AI Approach to Public Library Performance Monitoring — The Indonesian Case.”


Dalam presentasinya, ia memaparkan pengalaman Indonesia dalam memanfaatkan data dan pendekatan AI untuk mendukung pemantauan kinerja perpustakaan publik.


Menurut Irhamni, teknologi dapat membantu mengubah data perpustakaan menjadi informasi yang lebih berguna untuk pengambilan keputusan.


“Data perpustakaan jangan hanya berhenti menjadi angka di dalam laporan. Dengan bantuan AI, data itu bisa kita olah untuk melihat pola, memahami kondisi, dan membantu menentukan langkah yang perlu dilakukan,” ujarnya.


Meski demikian, ia menegaskan bahwa teknologi tetap merupakan alat bantu. Pengambilan keputusan harus mempertimbangkan kualitas data, konteks, serta kebutuhan masyarakat yang dilayani perpustakaan.


Belajar dari Praktik Perpustakaan Korea

Rangkaian WLIC 2026 juga memberikan kesempatan kepada peserta untuk melihat langsung praktik pengelolaan perpustakaan di Republik Korea melalui Library Visits Tour pada 13 Agustus.


Kunjungan tersebut memperlihatkan bagaimana perpustakaan dapat terhubung dengan sektor pendidikan, budaya, seni, dan masyarakat. Pengalaman itu menjadi salah satu referensi bagi pengembangan layanan perpustakaan di Indonesia.


Keempat perspektif yang dibawa pegawai Perpusnas menunjukkan bahwa transformasi perpustakaan tidak hanya berkaitan dengan digitalisasi dan AI. Transformasi juga mencakup penguatan manusia, komunitas, budaya baca, keterbukaan pengetahuan, pengelolaan data, tata kelola, serta kemampuan perpustakaan dalam merespons kebutuhan masyarakat.


Melalui penelitian, presentasi, diskusi, dan pembangunan jejaring, keikutsertaan Indonesia dalam WLIC 2026 menjadi ruang untuk berbagi pengalaman sekaligus menyerap pengetahuan global.


Perpusnas tidak hanya hadir sebagai peserta dalam pembahasan masa depan perpustakaan, tetapi juga membawa pengalaman Indonesia ke forum internasional. Pengetahuan, praktik baik, dan jejaring yang diperoleh diharapkan dapat diterapkan untuk memperkuat transformasi perpustakaan dan budaya literasi di Indonesia. (Red)

×
Berita Terbaru Update