MARLUGA.COM - Ketua Umum Jaringan Media Indonesia Raya (JAMIRA), RM Gusti Haes, mengajak masyarakat menjadikan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah sebagai momentum memperkuat keteladanan, kejujuran, dan tanggung jawab dalam kehidupan publik, termasuk di ruang digital.
Pesan tersebut disampaikan Gusti Haes saat menyambut Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H di Kantor DPP JAMIRA, kawasan Kayu Manis, Jakarta Timur, Selasa (25/8).
Menurut Gusti Haes, Maulid Nabi tidak semestinya hanya menjadi kegiatan seremonial untuk mengenang kelahiran Rasulullah SAW. Peringatan tersebut juga menjadi kesempatan untuk merefleksikan penerapan akhlak dan keteladanan Nabi dalam kehidupan masyarakat saat ini.
“Maulid Nabi bukan sekadar momentum untuk mengenang kelahiran Rasulullah SAW, tetapi momentum untuk bertanya sejauh mana kita menghadirkan keteladanan beliau dalam kehidupan bangsa hari ini,” kata Gusti Haes.
Ia menilai perkembangan teknologi digital membawa tantangan baru. Penyebaran informasi berlangsung sangat cepat, tetapi tidak selalu diiringi kemampuan masyarakat untuk memastikan kebenaran informasi.
Kondisi itu, lanjutnya, dapat memicu penyebaran informasi yang belum terverifikasi, perdebatan, tuduhan, hingga ujaran kebencian.
“Di tengah situasi seperti itu, kita membutuhkan kembali sesuatu yang menjadi inti ajaran Rasulullah SAW, yaitu akhlak,” ujarnya.
Gusti Haes menegaskan, kemajuan teknologi dan kecerdasan intelektual perlu berjalan beriringan dengan moralitas. Pengetahuan, kekuasaan, maupun kebebasan berkomunikasi harus digunakan secara bertanggung jawab.
“Kita tidak kekurangan orang pintar. Kita membutuhkan lebih banyak orang yang berakhlak. Kita tidak kekurangan informasi, tetapi membutuhkan lebih banyak kejujuran dalam menyampaikan informasi,” katanya.
Media Diminta Jaga Integritas
Gusti Haes juga mengingatkan pentingnya penerapan nilai-nilai keteladanan dalam dunia pers. Menurut dia, media memiliki peran strategis dalam membentuk opini publik sehingga tidak boleh hanya mengejar kecepatan dan perhatian masyarakat.
Akurasi, keberimbangan, dan integritas jurnalistik harus tetap menjadi prinsip utama dalam penyampaian informasi.
“Di tengah derasnya disinformasi, media harus menjadi ruang yang menghadirkan fakta. Di tengah meningkatnya polarisasi, media harus menjadi ruang yang menghadirkan keseimbangan. Di tengah kegaduhan, media harus menghadirkan akal sehat,” kata Gusti Haes.
JAMIRA, kata dia, mendorong agar nilai-nilai keteladanan Nabi Muhammad SAW diterapkan dalam berbagai bidang kehidupan, mulai dari masyarakat, pemerintahan, pendidikan, dunia usaha hingga komunikasi digital.
Menurutnya, perkembangan teknologi membuat etika berkomunikasi di ruang digital semakin penting. Sebuah unggahan dapat menyebar luas dan memengaruhi banyak orang dalam waktu singkat.
“Di era ketika satu unggahan dapat memengaruhi ribuan bahkan jutaan manusia, akhlak digital menjadi bagian dari akhlak manusia itu sendiri,” ujarnya.
Gusti Haes juga mengajak insan media, masyarakat, tokoh agama, dan generasi muda menjadikan Maulid Nabi sebagai momentum memperkuat persaudaraan, menjaga persatuan, serta merawat kebhinnekaan.
“Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar kecerdasan. Indonesia membutuhkan kejujuran. Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar pembangunan. Indonesia membutuhkan keadilan,” katanya.
Ia menambahkan, kebebasan berbicara harus diimbangi dengan tanggung jawab, sementara kepemimpinan harus ditopang keteladanan.
“Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar kebebasan berbicara. Indonesia membutuhkan tanggung jawab. Dan Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar banyaknya pemimpin. Indonesia membutuhkan keteladanan,” ujar Gusti Haes.
JAMIRA berharap peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H dapat mendorong masyarakat menerjemahkan kecintaan kepada Rasulullah melalui sikap, ucapan, dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya melalui perayaan. (Red)
