Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Herry Dahana Ingatkan Politik Jangan Dibangun dari Spekulasi Media Sosial

Rabu, 26 Agustus 2026 | Agustus 26, 2026 WIB Last Updated 2026-08-26T03:13:27Z


MARLUGA.COM - Anggota Dewan Pembina PP Gerakan Kristiani Indonesia Raya (GEKIRA), Irjen Pol (Purn) Heribertus Dahana Resmiwara atau Herry Dahana, mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan media sosial sebagai ruang untuk membangun spekulasi mengenai pergantian kekuasaan di luar mekanisme konstitusional.


Pernyataan itu disampaikan Herry menanggapi viralnya potongan video Ketua Umum PROJO Budi Arie Setiadi yang membahas kemungkinan “percepatan” dinamika politik menuju 2029. Dalam video berdurasi sekitar 1 menit 47 detik tersebut, Budi Arie juga menyebut istilah “patahan sejarah”. Presiden ke-7 RI Joko Widodo tampak duduk bersebelahan dengan Budi Arie dalam forum itu.


Herry menilai pernyataan tersebut tidak seharusnya dipelintir menjadi tuduhan adanya manuver politik tertentu. Namun, pernyataan itu juga tidak tepat jika dianggap sekadar percakapan tanpa dampak terhadap persepsi publik.


“Jangan dipelintir, tetapi jangan pula dianggap sepele. Kalau seorang aktor politik menyampaikan istilah ‘percepatan’ dalam konteks dinamika politik sebelum 2029, publik tentu berhak bertanya: percepatan apa, menuju apa, dan melalui mekanisme apa?” kata Herry.


Mantan Deputi Politik dan Strategi Wantannas RI 2022 itu meminta masyarakat berhati-hati dalam menafsirkan video yang beredar. Menurutnya, video tersebut merupakan potongan dari sebuah forum sehingga konteks pembicaraan secara utuh perlu diperhatikan.


Herry juga mengingatkan agar keberadaan tokoh tertentu dalam sebuah forum tidak langsung dijadikan bukti adanya kesepakatan atau skenario politik.


“Dalam negara demokrasi, setiap pernyataan politik boleh dikritisi. Namun, kritik harus berbasis fakta dan konteks. Jangan sampai seseorang duduk bersebelahan dengan tokoh tertentu kemudian langsung ditarik menjadi bukti adanya kesepakatan atau skenario politik,” ujarnya.


Jangan Biarkan Algoritma Menggantikan Konstitusi


Herry mengatakan dinamika politik merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari demokrasi. Kritik terhadap pemerintah, perubahan konfigurasi politik, hingga pergantian kekuasaan dapat berlangsung selama mengikuti aturan dan mekanisme yang ditetapkan konstitusi.


Karena itu, ia meminta istilah seperti “percepatan” dan “patahan sejarah” tidak berkembang menjadi narasi yang menempatkan media sosial sebagai penentu arah pemerintahan.


“Algoritma media sosial tidak memiliki kewenangan konstitusional. Viral bukan berarti benar, dan viral juga bukan berarti memiliki legitimasi politik. Jangan sampai opini digital secara perlahan ditempatkan lebih tinggi daripada hukum dan konstitusi,” tegas Herry.


Ia menegaskan Presiden Prabowo Subianto memperoleh mandat rakyat melalui Pemilu 2024. Oleh karena itu, keberlangsungan pemerintahan harus tetap berada dalam kerangka konstitusional.


“Kalau yang dimaksud dengan ‘percepatan’ hanya pembacaan terhadap dinamika politik, silakan dijelaskan secara terbuka. Tetapi kalau istilah itu ditafsirkan sebagai kemungkinan pergantian kekuasaan sebelum masa jabatan berakhir, pertanyaan hukumnya jelas: apa dasar konstitusionalnya dan melalui mekanisme apa?” katanya.


Menurut Herry, sikap tersebut bukan bentuk pembelaan terhadap pemerintah, melainkan bagian dari upaya menjaga kualitas demokrasi dan kepastian hukum.


“Konstitusi harus menjadi titik berangkat dan titik akhir setiap pembicaraan mengenai kekuasaan. Jangan sampai demokrasi kita bergerak dari ruang konstitusional menuju ruang spekulatif hanya karena sebuah narasi memperoleh jutaan tayangan di media sosial,” ujarnya.


Kehadiran Jokowi Tidak Bisa Dijadikan Bukti


Herry turut menyoroti kehadiran Joko Widodo dalam forum tersebut. Ia mengakui posisi Jokowi yang duduk bersebelahan dengan Budi Arie dapat memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat.


Namun, kehadiran Jokowi tidak dapat serta-merta dijadikan bukti adanya kesepakatan ataupun skenario politik tertentu.


“Jokowi hadir dalam forum itu, tetapi kehadiran seseorang tidak serta-merta menjadi bukti bahwa yang bersangkutan menyetujui seluruh pernyataan orang lain. Kita harus membedakan fakta, persepsi, dan kesimpulan politik,” jelasnya.


Menurut Herry, kemampuan membedakan fakta, persepsi, dan kesimpulan merupakan bagian penting dari kedewasaan berdemokrasi di era digital.


“Jangan membuat kesimpulan terlebih dahulu, kemudian mencari pembenaran dari sebuah video. Cara berpikir seperti itu berbahaya bagi demokrasi,” katanya.


Ia menambahkan, tokoh politik tetap memiliki hak untuk membaca kemungkinan perubahan situasi politik. Namun, pembacaan tersebut tidak boleh berkembang menjadi anggapan bahwa pergantian kekuasaan dapat dilakukan melalui tekanan publik, viralitas media sosial, atau mobilisasi politik yang mengabaikan prosedur konstitusional.


“Politik boleh dinamis, tetapi negara harus tetap memiliki pijakan. Kritik boleh keras, oposisi boleh kritis, masyarakat boleh berbeda pendapat. Tetapi ketika berbicara mengenai pergantian kekuasaan, kita harus kembali kepada konstitusi,” ujarnya.


Gerindra Diminta Fokus Mengawal Pemerintahan


Herry mengapresiasi sikap Partai Gerindra yang memilih fokus mengawal pemerintahan dan program Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, sikap tersebut penting agar dinamika politik tidak berkembang menjadi kegaduhan yang mengganggu konsolidasi nasional.


“Pemerintah harus bekerja, partai politik harus menjalankan fungsi konstitusionalnya, dan masyarakat harus mengawasi. Jangan semuanya terseret ke dalam spekulasi mengenai siapa akan menggantikan siapa sebelum waktunya,” kata Herry.


Ia menilai Indonesia masih membutuhkan konsentrasi untuk menghadapi berbagai tantangan, seperti kondisi ekonomi, geopolitik, ketahanan pangan dan energi, investasi, serta penciptaan lapangan kerja.


“Energi bangsa jangan habis untuk membicarakan kemungkinan pergantian kekuasaan yang belum tentu terjadi. Kalau ada persoalan dalam pemerintahan, kritik dan koreksi harus diarahkan pada kebijakan dan kinerja, bukan membangun ketidakpastian politik,” tegasnya.


Kritik Tetap Diperlukan, tetapi Harus Berbasis Fakta


Herry menegaskan dirinya tidak mempersoalkan kritik terhadap Presiden maupun pemerintah. Menurutnya, kritik merupakan salah satu unsur penting dalam demokrasi.


Namun, kritik harus dibedakan dari narasi yang berpotensi menimbulkan ketidakpercayaan terhadap institusi negara.


“Silakan kritik Presiden. Silakan kritik pemerintah. Silakan berbeda pilihan politik. Itu semua bagian dari demokrasi. Tetapi jangan membangun opini seolah-olah pergantian kekuasaan dapat ditentukan oleh tekanan media sosial atau permainan narasi tanpa dasar yang jelas,” katanya.


Jika terdapat dugaan pelanggaran hukum atau persoalan konstitusional, Herry meminta masyarakat menggunakan mekanisme hukum yang tersedia.


“Kalau ada pelanggaran, buktikan. Kalau ada persoalan hukum, gunakan mekanisme hukum. Kalau ada kritik terhadap kebijakan pemerintah, sampaikan secara terbuka. Jangan mengganti argumentasi dengan rumor dan spekulasi,” ujarnya.


Herry juga meminta masyarakat tidak mudah menarik kesimpulan dari potongan video yang beredar di berbagai platform digital.


“Jangan biarkan TikTok atau platform media sosial lainnya menentukan persepsi kita mengenai masa depan bangsa. Tonton secara utuh, pahami konteksnya, periksa sumbernya, baru mengambil kesimpulan,” katanya.


Demokrasi Tidak Ditentukan Viralitas


Herry menutup pernyataannya dengan menegaskan demokrasi Indonesia harus tetap berlandaskan supremasi konstitusi, bukan viralitas di media sosial.


“Pergantian kekuasaan adalah bagian dari demokrasi. Tetapi pergantian kekuasaan harus mendapatkan legitimasi rakyat dan berlangsung melalui mekanisme konstitusional. Bukan karena sebuah video menjadi viral, bukan karena sebuah narasi terus diulang di media sosial, dan bukan karena tekanan opini yang sengaja dibangun,” pungkasnya.


Menurut Herry, tantangan demokrasi di era digital bukan hanya memastikan masyarakat memperoleh informasi, tetapi juga memiliki kemampuan membedakan fakta, opini, propaganda, dan spekulasi.


“Jangan sampai kita kehilangan kemampuan membedakan keempatnya. Ketika opini diperlakukan sebagai fakta dan viralitas dianggap sebagai legitimasi, pada saat itulah demokrasi mulai kehilangan rasionalitasnya,” tegas Herry. (Red)

×
Berita Terbaru Update