MARLUGA.COM - Pengembangan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati sebagai pusat maintenance, repair, and overhaul (MRO) seharusnya tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan aktivitas bandara. Lebih dari itu, Kertajati memiliki peluang strategis untuk menjadi bagian dari upaya membangun kemandirian industri kedirgantaraan Indonesia.
MRO merupakan bagian penting dalam rantai industri penerbangan. Setiap pesawat membutuhkan perawatan, perbaikan, modernisasi, penyediaan suku cadang, rekayasa, hingga dukungan teknis selama masa operasionalnya.
Kemampuan tersebut menjadi semakin penting bagi negara yang ingin mengurangi ketergantungan terhadap pihak luar. Memiliki dan mengoperasikan pesawat tanpa kemampuan merawat serta meningkatkan kapabilitasnya secara mandiri dapat menimbulkan ketergantungan strategis dalam jangka panjang.
Karena itu, Kertajati perlu dikembangkan dengan perspektif yang lebih luas. Bandara ini dapat diarahkan menjadi bagian dari ekosistem industri kedirgantaraan yang mencakup sumber daya manusia, teknologi, pendidikan, riset, jasa rekayasa, industri komponen, hingga dukungan terhadap kebutuhan pertahanan nasional.
Belajar dari Negara Lain
Pengalaman sejumlah negara menunjukkan bahwa pusat MRO yang kompetitif tidak cukup dibangun dengan hanggar dan landasan yang memadai. Daya saing juga ditentukan oleh kualitas tenaga kerja, sertifikasi internasional, kemampuan rekayasa, ketersediaan suku cadang, dukungan logistik, lembaga pendidikan, industri komponen, serta kepastian regulasi.
Brasil dapat menjadi salah satu contoh. Melalui Embraer, negara tersebut mengembangkan kemampuan manufaktur pesawat sekaligus membangun layanan pendukung yang mencakup pemeliharaan, perbaikan, peningkatan kemampuan, penyediaan suku cadang, pelatihan, dan dukungan teknis.
Ekosistem kedirgantaraan di sekitar Embraer di São José dos Campos juga memperlihatkan pentingnya konsentrasi industri. Pusat riset, perguruan tinggi, perusahaan rekayasa, pemasok komponen, dan fasilitas pengujian berkembang dalam satu kawasan.
Pengalaman Helibras di Brasil juga menunjukkan bahwa kemampuan pemeliharaan dapat berkembang menjadi kemampuan industri yang lebih luas melalui integrasi, modernisasi, pelatihan, dan dukungan sepanjang siklus hidup helikopter.
Di Asia, Malaysia dan Singapura memiliki pengalaman berbeda dalam mengembangkan industri MRO. Malaysia berkembang sebagai salah satu basis MRO pesawat komersial dengan dukungan tenaga kerja terlatih dan kepatuhan terhadap standar internasional. Sementara itu, Singapura melalui ST Engineering Aerospace membangun jaringan layanan MRO untuk pasar internasional.
Pelajaran dari kedua negara tersebut cukup jelas. Menjadi pusat MRO regional bukan hanya soal luas wilayah atau jumlah hanggar. Faktor penentunya meliputi kualitas layanan, sertifikasi, kemampuan teknis, keandalan, dukungan logistik, serta kepercayaan pelanggan.
Maroko dan Meksiko juga menunjukkan bahwa MRO dapat menjadi pintu masuk menuju industri kedirgantaraan yang lebih luas. Kedua negara mengembangkan keterkaitan antara MRO, manufaktur komponen, pelatihan, pendidikan, dan jasa rekayasa.
Sementara itu, Afrika Selatan memberikan pelajaran mengenai pentingnya kesinambungan kemampuan teknis, riset, serta keterhubungan antara kebutuhan pertahanan dan industri nasional.
Kondisi setiap negara tentu berbeda dan tidak dapat disalin secara utuh. Namun, terdapat pola yang dapat menjadi pelajaran bagi Indonesia: pusat MRO yang kuat membutuhkan ekosistem industri yang kuat pula.
Kertajati Bukan Sekadar Hanggar
Pelajaran tersebut relevan untuk pengembangan Kertajati. Kawasan ini sebaiknya tidak hanya menjadi tempat pesawat datang untuk diperbaiki, kemudian kembali beroperasi.
Kertajati dapat dirancang sebagai aerospace cluster yang menghubungkan MRO sipil dan militer dengan pendidikan, pelatihan, rekayasa, riset, industri komponen, fasilitas pengujian, sertifikasi, perguruan tinggi, dan jaringan pemasok.
Jika ekosistem itu terbentuk, dampaknya terhadap perekonomian akan lebih besar. Kertajati tidak hanya menciptakan lapangan kerja bagi teknisi, tetapi juga dapat mendorong pertumbuhan industri komponen, jasa rekayasa, logistik, pendidikan vokasi, dan penelitian.
Investasi asing tetap diperlukan. Namun, investasi seharusnya tidak berhenti pada pembangunan fasilitas dan penciptaan lapangan kerja. Investasi perlu diarahkan menjadi sarana transfer pengetahuan dan teknologi.
Pelatihan teknisi Indonesia, sertifikasi tenaga kerja, pengembangan kemampuan rekayasa, keterlibatan industri nasional, peningkatan kemampuan perbaikan komponen, dan penguasaan teknologi harus menjadi bagian dari kerja sama investasi.
Dengan demikian, keberhasilan investasi tidak hanya diukur dari besarnya modal yang masuk, tetapi juga dari seberapa besar kemampuan teknologi dan sumber daya manusia yang dapat dikuasai serta dipertahankan di Indonesia.
MRO Berkaitan dengan Pertahanan
Pengembangan MRO menjadi semakin strategis ketika dikaitkan dengan sektor pertahanan.
MRO pertahanan bukan semata persoalan efisiensi biaya. Kemampuan pemeliharaan berhubungan langsung dengan kesiapan operasional dan kedaulatan negara.
Ketergantungan pada fasilitas pemeliharaan di luar negeri dapat menjadi persoalan ketika terjadi krisis, konflik, pembatasan ekspor, atau gangguan rantai pasok global.
Karena itu, kemampuan MRO nasional perlu menjadi bagian dari defence industrial base. Setiap pengadaan alat utama sistem senjata (alutsista) semestinya tidak berhenti pada pembelian platform. Pemerintah juga perlu memastikan adanya kemampuan untuk merawat, memperbaiki, memodernisasi, dan memberikan dukungan teknis selama masa pakai alutsista.
Kebijakan pengadaan pertahanan dengan demikian perlu berjalan seiring dengan kebijakan industri nasional.
Pengadaan alutsista, transfer teknologi, pengembangan sumber daya manusia, pembangunan fasilitas MRO, pengembangan komponen, riset, dan penguatan industri dalam negeri perlu dirancang sebagai satu kesatuan.
Pendekatan tersebut memungkinkan setiap pengadaan alutsista menjadi peluang untuk meningkatkan kemampuan industri nasional, bukan sekadar memenuhi kebutuhan operasional jangka pendek.
Dalam konteks itu, Kertajati berpotensi menjadi salah satu simpul yang mempertemukan kepentingan industri penerbangan, ekonomi, teknologi, dan pertahanan.
Dari Bandara Menjadi Ekosistem Kedirgantaraan
Dengan pasar penerbangan Indonesia yang besar dan posisi geografis yang strategis, Kertajati memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi salah satu pusat MRO di Asia Tenggara.
Namun, posisi tersebut tidak otomatis terbentuk hanya karena tersedianya infrastruktur. Untuk menjadi pusat MRO regional, Kertajati harus mampu menawarkan kualitas teknisi, sertifikasi internasional, kecepatan layanan, ketersediaan komponen, dukungan rekayasa, kepastian regulasi, dan kepercayaan pelanggan.
Jika kemampuan tersebut dapat dibangun, pesawat dari berbagai negara di kawasan berpeluang menjalani perawatan di Indonesia. Kondisi ini dapat mengurangi devisa yang selama ini dibelanjakan untuk layanan MRO di luar negeri sekaligus membuka peluang ekspor jasa MRO.
Yang lebih penting, proses tersebut dapat membangun kemampuan teknologi yang bertahan di dalam negeri.
Karena itu, ukuran keberhasilan Kertajati tidak semestinya hanya dilihat dari jumlah pesawat yang ditangani atau besarnya investasi yang masuk. Pertanyaan yang lebih penting adalah kemampuan apa yang dapat dikuasai Indonesia dalam 10, 20, hingga 30 tahun mendatang.
Jika pengembangan Kertajati mampu melahirkan teknisi yang semakin kompeten, industri komponen yang semakin kuat, kemampuan rekayasa yang semakin mandiri, sertifikasi internasional yang semakin luas, serta kemampuan merawat dan memodernisasi alutsista di dalam negeri, Kertajati dapat benar-benar menjadi proyek strategis nasional.
Kertajati pada akhirnya bukan sekadar persoalan sebuah bandara. Kawasan ini merupakan peluang untuk membangun ekosistem kedirgantaraan Indonesia secara lebih menyeluruh.
Dengan visi jangka panjang, kebijakan yang konsisten, pembiayaan yang jelas, target terukur, dan keputusan pemerintah yang kuat, Kertajati berpeluang menjadi salah satu fondasi industri kedirgantaraan nasional sekaligus berkembang sebagai pusat MRO regional.
Ukuran keberhasilan akhirnya bukan sekadar berdirinya hanggar atau besarnya nilai investasi. Ukuran yang lebih penting adalah lahirnya kemampuan nasional yang sebelumnya harus diperoleh dari luar negeri.
Di situlah letak makna strategis Kertajati bagi kemandirian industri kedirgantaraan dan pertahanan Indonesia. (Red)
Oleh: Marsda TNI Dr. Budhi Achmadi, M.Sc.
