Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Eridal dan Dal Songket Buktikan Songket Pandai Sikek Tetap Bernilai hingga Rp20 Juta

Selasa, 25 Agustus 2026 | Agustus 25, 2026 WIB Last Updated 2026-08-25T01:32:59Z


MARLUGA.COM - Tenun songket di Nagari Pandai Sikek, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, bukan sekadar warisan budaya. Bagi masyarakat setempat, kerajinan ini menjadi sumber penghidupan sekaligus identitas yang terus dipertahankan di tengah perubahan zaman.


Salah satu sosok yang konsisten menjaga keberlangsungan songket Pandai Sikek adalah Eridal melalui brand Dal Songket. Berawal dari menerima upah Rp5.000 untuk membuat satu selendang pada 1983, Eridal kini mengembangkan usaha songket premium dengan produk yang harganya dapat mencapai Rp20 juta per helai.


Perjalanan tersebut menjadikan Eridal bukan hanya sebagai pengrajin, tetapi juga pelaku usaha yang berupaya menjaga kualitas dan nilai budaya songket Pandai Sikek.


KKI 2026 Dorong UMKM Semakin Berdaya Saing


Kisah Eridal dan Dal Songket menjadi bagian dari semangat penguatan UMKM yang diusung melalui Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026.


KKI 2026 digelar pada 20–23 Agustus 2026 di Hall A dan B Jakarta International Convention Center (JICC). Tahun ini, kegiatan tersebut mengusung tema "Penguatan Sinergi untuk Mendorong UMKM Bangkit, Tangguh, dan Berdaya Saing".


Bank Indonesia menyelenggarakan KKI dengan melibatkan 27 kementerian/lembaga serta 34 mitra strategis dari sektor industri, perbankan, asosiasi, dan masyarakat.


Pejabat Gubernur Sementara Bank Indonesia, Destry Damayanti, menyebut penguatan UMKM ke depan bertumpu pada tiga hal, yakni bangkit, tangguh, dan berdaya saing.


"Bangkit merupakan semangat pemulihan UMKM yang menghadapi tantangan ekonomi maupun bencana alam. Tangguh diwujudkan melalui penguatan struktur usaha dan akses pembiayaan berkelanjutan. Berdaya Saing diwujudkan melalui inovasi produk dan perluasan akses pasar domestik maupun ekspor," ujar Destry.


KKI 2026 juga mengangkat semangat "Beudaya Meusare Sare" dari Aceh yang bermakna berdaya bersama-sama. Sebanyak 1.850 UMKM mengikuti kegiatan tersebut, terdiri atas 550 UMKM secara luring dan 1.300 UMKM secara daring.


Berawal dari Upah Rp5.000


Eridal mulai menekuni dunia tenun pada 1983. Kala itu, ia membuat selendang songket menggunakan benang nomor 6 dengan ukuran lebar 30 sentimeter dan panjang 160 sentimeter. Upah yang diterimanya hanya Rp5.000.


Pendidikan Eridal hanya sampai kelas II SMP. Namun, keterbatasan tersebut tidak menghalanginya untuk terus mengembangkan keterampilan menenun yang diwariskan secara turun-temurun.


Tradisi menenun di Pandai Sikek umumnya diwariskan dari ibu kepada anak perempuan. Tradisi tersebut berjalan seiring dengan sistem kekerabatan matrilineal masyarakat Minangkabau.


"Di Pandai Sikek, kegiatan menenun dilakukan secara turun-temurun. Saya mulai benar-benar serius setelah 2009, ketika mulai membuat dengan modal sendiri," kata Eridal.


Tahun 2009 menjadi titik penting karena Eridal mulai membangun usahanya secara mandiri. Setelah lebih dari empat dekade berkecimpung dalam dunia tenun, Dal Songket kini memiliki merek resmi dan terus menyasar pasar songket berkualitas tinggi.


Strategi Bertahan di Tengah Perubahan Pasar


Perubahan pola perdagangan turut memengaruhi ekosistem pengrajin songket di Pandai Sikek.


Pada awal 2025, Eridal sempat mempekerjakan 25 pengrajin secara langsung. Namun, memasuki 2026, jumlah tersebut berkurang menjadi lima orang.


Menurut Eridal, kondisi tersebut bukan semata-mata akibat penurunan permintaan. Perubahan perilaku pasar, terutama maraknya penjualan melalui siaran langsung atau live streaming, ikut mengubah pola perdagangan songket di Pandai Sikek.


Eridal memilih pendekatan berbeda dengan membeli songket dari para pengrajin secara selektif.


"Saya lebih suka membeli songket dari pengrajin. Risikonya pun kecil. Kalau suka, kami beli; kalau tidak suka, kami tidak ambil," ujarnya.


Strategi tersebut memungkinkan Dal Songket menjaga kualitas produk sekaligus menyesuaikan pengelolaan modal. Setiap kain yang dipasarkan melalui Dal Songket terlebih dahulu melalui proses seleksi.


Sekitar 800 Pengrajin Masih Bertahan


Di balik industri songket Pandai Sikek terdapat ekosistem pengrajin yang cukup besar. Saat ini, sekitar 800 pengrajin masih aktif menenun di Nagari Pandai Sikek.


Keberadaan ratusan pengrajin tersebut menunjukkan bahwa tenun masih menjadi salah satu sumber ekonomi penting bagi masyarakat setempat.


Namun, perkembangan perdagangan digital membawa tantangan tersendiri. Penjualan melalui live streaming membuka akses pasar yang lebih luas, tetapi pada saat yang sama menuntut pelaku usaha untuk semakin mampu menjaga kualitas dan citra produk.


Bagi Eridal, kurasi menjadi salah satu cara untuk mempertahankan nilai songket Pandai Sikek, terutama untuk produk yang menyasar pasar premium.


Motif Sirih Gadang Bisa Mencapai Rp20 Juta


Salah satu motif unggulan Dal Songket adalah Tumpal Sirih Gadang. Motif daun sirih memiliki kaitan erat dengan tradisi masyarakat Minangkabau dan digunakan dalam acara adat, termasuk penyambutan tamu.


Nilai budaya tersebut turut memengaruhi harga kain. Songket bermotif Sirih Gadang dapat mencapai Rp20 juta per helai, bergantung pada tingkat kerumitan motif, bahan yang digunakan, serta lamanya proses pengerjaan yang dapat berlangsung selama berbulan-bulan.


Sebagai pembanding, songket Pandai Sikek berbahan katun dengan motif klasik berada di kisaran Rp2 juta hingga Rp3 juta. Sementara itu, songket berbahan sutra dengan motif yang lebih rumit dapat dihargai sekitar Rp6 juta hingga Rp10 juta.


Harga tersebut menunjukkan bahwa songket Pandai Sikek memiliki segmen pasar tersendiri, khususnya bagi konsumen yang menghargai kualitas, kerumitan pengerjaan, dan nilai budaya.


Filosofi Motif Bada Mudiak


Selain Sirih Gadang, motif Bada Mudiak juga menjadi salah satu motif klasik yang memiliki filosofi kuat.


"Bada" merujuk pada ikan kecil yang hidup di sungai-sungai di wilayah Minangkabau. Ikan tersebut dikenal bergerak dalam kelompok dan berenang searah.


Bagi Eridal, karakter tersebut menjadi simbol kebersamaan dan keselarasan.


"Bada adalah ikan kecil yang berenang searah. Filosofinya, kita harus berjalan seiya sekata dalam mufakat," ungkapnya.


Filosofi itu sejalan dengan nilai musyawarah dan mufakat yang melekat dalam kehidupan masyarakat Minangkabau.


Pada kain songket, motif Bada Mudiak dapat ditempatkan pada bagian kepala maupun badan kain. Jika dibuat menggunakan benang emas dan teknik pengerjaan yang rumit, harga kain dengan motif tersebut juga dapat mencapai belasan hingga puluhan juta rupiah.


Songket Pandai Sikek Mendapat Perlindungan Indikasi Geografis


Songket Pandai Sikek memiliki nilai budaya dan ekonomi yang kuat. Produk budaya tersebut juga telah mendapatkan perlindungan melalui Sertifikat Indikasi Geografis (IG) dari Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kementerian Hukum dan HAM.


Proses pendaftaran Indikasi Geografis dimulai pada Oktober 2021 dan menghasilkan sertifikat pada 2024. Perlindungan tersebut menjadi dasar penting untuk menjaga keaslian dan karakteristik songket yang berasal dari Pandai Sikek.


Eridal yang juga menjabat Ketua Masyarakat Peduli Indikasi Geografis Songket Pandai Sikek (MPIG) menjelaskan bahwa teknik pembuatan menjadi salah satu pembeda utama.


Para penenun menggunakan teknik cucuk dan sesangkak yang membutuhkan ketelitian tinggi dalam menyusun benang lungsi dan pakan.


"Urutan benang harus tepat, hitungan helainya tidak boleh keliru, dan pola pun harus dihafal sepenuhnya tanpa bantuan alat modern. Satu kesalahan kecil saja dapat merusak keseluruhan komposisi motif," jelas Eridal.


Kemampuan tersebut tidak dapat dikuasai secara instan. Penenun membutuhkan latihan panjang dan pengalaman bertahun-tahun untuk menghasilkan kain dengan motif yang presisi.


Tantangan Regenerasi Pengrajin


Keberadaan sekitar 800 pengrajin menjadi modal penting bagi masa depan songket Pandai Sikek. Namun, regenerasi pengrajin dan perubahan pola pemasaran tetap menjadi tantangan.


Perkembangan perdagangan digital membuat sebagian pelaku usaha lebih tertarik pada aktivitas penjualan melalui siaran langsung. Kondisi tersebut berpotensi mengubah rantai produksi dan distribusi songket di tingkat nagari.


Eridal tetap optimistis dengan masa depan Dal Songket. Menurutnya, merek resmi dan perlindungan Indikasi Geografis dapat menjadi modal penting untuk mempertahankan kualitas sekaligus memperkuat posisi songket Pandai Sikek di pasar.


Perjalanan Eridal dari menerima upah Rp5.000 pada 1983 hingga mengembangkan songket bernilai puluhan juta rupiah menunjukkan bahwa kerajinan tradisional masih memiliki peluang besar untuk berkembang.


Lebih dari sekadar kain, songket Pandai Sikek merupakan identitas budaya yang menyimpan filosofi, keterampilan, dan nilai ekonomi. Tantangannya kini adalah memastikan warisan tersebut tetap hidup, memiliki pasar, serta dapat diteruskan kepada generasi berikutnya. (Red)

×
Berita Terbaru Update