Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Generasi Muda Diajak Hidupkan Cerita Betawi Lewat Fiksi

Kamis, 13 Agustus 2026 | Agustus 13, 2026 WIB Last Updated 2026-08-13T09:27:26Z


MARLUGA.COM - Puluhan generasi muda mengikuti pelatihan penulisan kreatif bertema "Dari Folklor ke Fiksi: Menulis Cerita Betawi untuk Generasi Baru" di Balai Sastra HB Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Rabu (12/8/2026).


Kegiatan yang digelar Perkumpulan Betawi Kita bersama Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin dan Perpustakaan Jakarta itu menjadi ruang bagi penulis, sastrawan, budayawan, akademisi, dan generasi muda untuk menggali kembali folklor Betawi.


Folklor tersebut kemudian diolah menjadi cerita pendek yang lebih relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini.


Dosen Sastra Indonesia Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Ige Azmin, mengatakan folklor Betawi memiliki kedekatan dengan kehidupan sehari-hari. Menurutnya, cerita, tradisi, benda, kebiasaan, hingga praktik budaya dapat menjadi sumber inspirasi bagi penulis.


"Folklor berkaitan dengan segala sesuatu yang ada di dalam kelompok masyarakat, bisa berupa cerita, tradisi, benda-benda, maupun hal-hal lain yang hidup di masyarakat," kata Ige dalam keterangan tertulis, Kamis (13/8).


Ia menilai penulis tidak harus memahami seluruh aspek budaya Betawi sebelum mulai berkarya. Proses menulis justru dapat menjadi cara untuk menggali dan memahami budaya secara lebih mendalam.


Ige juga menekankan pentingnya menyusun premis dan kerangka cerita sebelum mulai menulis. Langkah tersebut dinilai dapat membantu penulis menghadapi kebuntuan ide sekaligus membuat proses kreatif lebih terarah.


"Kalau kita menjadikan folklor sebagai sumber inspirasi dan bahan cerita pendek, itu justru bisa membuat kita lebih lancar menulis," ujarnya.


Sementara itu, sastrawan Sasti Gotama mengatakan cerita rakyat Betawi memiliki banyak peluang untuk dikembangkan melalui perspektif baru. Cerita seperti Si Mirah, Si Pitung, dan Si Manis Jembatan Ancol, menurutnya, tidak harus ditulis ulang secara utuh.


Penulis dapat mengambil nilai dan semangat dari cerita tersebut, kemudian mengadaptasinya ke dalam persoalan kehidupan masa kini tanpa menghilangkan pesan moralnya.


"Cerita masa lalu bisa tetap relevan dengan mengambil roh dari cerita lama, lalu menggunakan latar masa kini tanpa kehilangan ruh cerita rakyat Betawi," kata Sasti.


Menurut Sasti, keterhubungan dengan kehidupan generasi muda menjadi salah satu kunci agar cerita rakyat tetap menarik. Pembaca cenderung tertarik ketika menemukan persoalan yang dekat dengan pengalaman mereka.


"Biasanya orang tertarik membaca karena merasa relate, merasa terhubung dengan cerita tersebut," ujarnya.


Sasti menilai perkembangan media sosial juga menjadi tantangan bagi dunia sastra. Generasi muda kini terbiasa dengan konten visual dan audio yang dapat dinikmati secara cepat.


Karena itu, upaya mengenalkan sastra Betawi tidak cukup hanya dengan mendorong anak muda untuk membaca. Mereka juga perlu diberi ruang untuk mengenal, berdiskusi, menulis, dan mengembangkan cerita menggunakan pendekatan yang sesuai dengan zaman.


"Tidak kenal, tidak sayang. Salah satu forum seperti ini menjadi cara untuk mengenalkan sastra Betawi kepada mereka. Semakin banyak pemaparan, mereka akan semakin tertarik," tuturnya.


Ketua Perkumpulan Betawi Kita, Fadjriah Nurdiarsih, mengatakan pelatihan tersebut berangkat dari keprihatinan terhadap masih banyaknya generasi muda yang belum mengenal cerita dan penulis Betawi.


Menurut Fadjriah, kegiatan ini menjadi langkah awal untuk memperkenalkan kembali khazanah sastra Betawi sekaligus mendorong munculnya penulis-penulis baru.


"Kami berharap proses ini tidak berhenti setelah pelatihan. Karya peserta dapat terus dikembangkan, dibukukan, bahkan menjadi bagian dari ekosistem sastra Betawi yang lebih luas," katanya.


Ia berharap budaya Betawi tidak hanya dipandang sebagai warisan masa lalu. Cerita-cerita lama dapat terus berkembang melalui cerpen, teater, film pendek, maupun bentuk karya kreatif lain yang dekat dengan generasi muda.


"Sebenarnya banyak pihak yang harus terlibat jika kita ingin menciptakan lebih banyak sastrawan dan mengenalkan sastra Betawi. Penulis baru saat ini hampir tidak ada sehingga harus ada langkah serius," tandasnya. (Red)

×
Berita Terbaru Update