Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Perpustakaan Perkuat Peran sebagai Penjaga Memori dan Pengetahuan di Era Digital

Jumat, 14 Agustus 2026 | Agustus 14, 2026 WIB Last Updated 2026-08-14T11:59:03Z



MARLUGA.COM - Perpustakaan kini memiliki peran yang jauh lebih luas dari sekadar tempat menyimpan dan meminjam buku. Di tengah derasnya arus informasi digital, perpustakaan dan pustakawan dituntut menjadi penjaga memori, pengetahuan, serta warisan dokumenter agar tetap tersedia bagi generasi mendatang.


Hal tersebut menjadi salah satu bahasan dalam seminar bertajuk Guardians of Memory: Libraries, Democratic Literacy, and Digital Preservation in the Trans-Pacific Narrative yang digelar Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) bersama Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) dan Fulbright Indonesia, Kamis (13/8/2026).


Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Pustakawan Indonesia (PP IPI) Joko Santoso mengatakan tema Guardians of Memory mencerminkan tanggung jawab pustakawan dalam menjaga rekam jejak perjalanan bangsa.


Menurut Joko, warisan dokumenter tidak hanya berupa manuskrip dan buku, tetapi juga surat kabar, foto, peta, rekaman suara, film, arsip, hingga dokumen digital.


Ia menyebut setidaknya ada lima peran penting pustakawan dalam menjaga memori publik, yakni sebagai penjaga memori, penghubung pengetahuan dengan masyarakat, pemberi konteks dan makna, pendidik, serta kolaborator.


"Pustakawan masa depan bukan penjaga rak buku. Ia adalah penjaga memori, penghubung pengetahuan, pendidik literasi, pemberi konteks dan makna, dan mitra masyarakat dalam memahami dunia," ujar Joko.


Pustakawan juga memiliki tanggung jawab membantu masyarakat menemukan sumber informasi yang kredibel serta meningkatkan literasi informasi dan digital. Kemampuan tersebut semakin penting untuk menghadapi penyebaran misinformasi dan disinformasi.


Joko menilai perkembangan teknologi tidak mengurangi pentingnya peran pustakawan. Sebaliknya, perubahan teknologi, pertumbuhan koleksi, dan sistem informasi yang semakin kompleks membutuhkan pustakawan dengan kompetensi, integritas, kemampuan beradaptasi, rasa ingin tahu, serta kesadaran terhadap tanggung jawab sosial.


Seminar tersebut juga digelar dalam momentum 250 tahun Kemerdekaan Amerika Serikat dan 81 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia. Menurut Joko, perjalanan sejarah kedua negara menunjukkan pentingnya kemampuan sebuah bangsa dalam mengingat, memeriksa, dan memahami masa lalu.


Tiga Tantangan Pengelolaan Pengetahuan

Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi Perpusnas Suharyanto mengatakan pengelolaan pengetahuan saat ini menghadapi sedikitnya tiga tantangan utama.


Pertama, dokumen fisik dan objek digital rentan mengalami kerusakan akibat bencana, keusangan format, serangan siber, hingga hilangnya konteks informasi.


Kedua, masyarakat menghadapi derasnya arus disinformasi. Ketiga, pola konsumsi informasi bergeser dari literatur panjang ke konten singkat yang banyak beredar di media sosial.


"Karena itu, perpustakaan perlu kita lihat bukan hanya sebagai tempat menyimpan koleksi, melainkan sebagai infrastruktur ingatan, infrastruktur pengetahuan, dan infrastruktur kepercayaan publik," kata Suharyanto.


Perpusnas menjalankan fungsi tersebut melalui pengembangan koleksi, pengelolaan metadata, layanan perpustakaan, preservasi bahan perpustakaan, promosi sumber informasi tepercaya, serta penguatan literasi informasi masyarakat.


Saat ini, Perpusnas memiliki lebih dari 3,6 juta judul dengan sekitar 9,9 juta eksemplar koleksi.


Pelestarian Naskah Nusantara

Dalam pelestarian warisan dokumenter Nusantara, sejumlah capaian strategis diraih pada 2025. Di antaranya pengakuan UNESCO Memory of the World terhadap Syair Hamzah Fansuri dan Sanghyang Siksa Kandang Karesian, repatriasi 42 naskah kuno Nusantara dari Selandia Baru, serta penetapan enam naskah baru sebagai Ingatan Kolektif Nasional (IKON).


Perpusnas juga mendorong pengenalan naskah Nusantara melalui berbagai format yang lebih dekat dengan masyarakat, termasuk komik, bacaan anak, dan film.


Suharyanto menegaskan digitalisasi koleksi perlu terus diperluas seiring perkembangan teknologi, termasuk pemanfaatan kecerdasan artifisial. Dalam konteks kerja sama lintas Pasifik, preservasi juga mencakup interoperabilitas metadata dan objek digital, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, mitigasi bencana, serta penguatan kemitraan dengan perpustakaan, arsip, museum, perguruan tinggi, komunitas, dan pemilik koleksi.


Kolaborasi Indonesia-Amerika Serikat

Direktur Eksekutif Fulbright Indonesia Sandra Hamid menekankan pentingnya memastikan pengetahuan tetap dapat diwariskan kepada generasi berikutnya. Menurutnya, kemampuan masyarakat dalam memilah informasi digital menjadi semakin penting di tengah peredaran fakta, miskonsepsi, misinformasi, dan disinformasi.


Ia menilai pertukaran pengalaman antara praktisi Indonesia dan Amerika Serikat merupakan bentuk kolaborasi yang setara.


"Ini adalah percakapan di antara pihak-pihak yang setara. Ini bukan tentang mengajar atau diajar, melainkan tentang berbagi informasi dan pengalaman," ujar Sandra.


Sementara itu, Fulbright Specialist Thomas Rieger menjelaskan bahwa digitalisasi merupakan bagian penting dalam menjaga kesinambungan memori publik. Digitalisasi, kata dia, menjadi jembatan antara warisan sejarah, literasi, dan akses masyarakat terhadap pengetahuan.


"Digitalisasi menghubungkan sejarah dunia kita dengan literasi. Keduanya saling berkaitan dan saling memperkaya," ujar Rieger.


Ia juga memperkenalkan teknologi pencitraan untuk material warisan budaya, termasuk Multispectral Imaging System for Historical Artifacts (MISHA). Teknologi pencitraan multispektral tersebut dapat membantu mengungkap informasi pada material yang sudah tidak dapat terlihat secara normal oleh mata manusia.


Pustakawan Perpusnas Aris Riyadi turut memaparkan peran pustakawan dalam menjaga warisan dokumenter melalui konservasi, digitalisasi, dan riset kolaboratif. Sejumlah koleksi yang menjadi contoh antara lain Babad Diponegoro dan manuskrip Sri Tanjung.


Aris menegaskan pelestarian koleksi merupakan tanggung jawab penting Perpusnas. Proses tersebut dilakukan melalui konservasi, digitalisasi, dan preservasi digital. Hasil digitalisasi kemudian disediakan agar dapat dimanfaatkan dan diakses oleh masyarakat. (Red)

×
Berita Terbaru Update